Saya sedang sibuk mengejar mimpi. Saya tertegun menatap layar.
Saya sedang berada di luar kota, mencari inspirasi. Bumi tempatku menapak biasanya, Sedang sedikit membuatku kecewa. Dunia pendidikan, terlebih.
Memilih menjadi seorang mahasiswa mode adalah bukan sebuah pilihan biasa. Kain yang mungkin tak berarti sebagian manusia namun kini menjadi musuh terbesar saya. Lalu sejarah baju yang sebelumnya menjadi salah satu yang saya senangi, menjadi salah satu batu sandungan saya.
I dont think i am going to pass this semester smoothly. I feel like i am giving up. Too much pressure.
Saya lelah. Ingin mati saja.
Atau ingin menjadi putri tidur, lalu bangun ketika semuanya sudah menjadi sesuatu yang bahagia.
Lalu saya tertegun. Memandangi bukit-bukti di Buittenzorg siang ini.
Merasa bodoh, karena hampir menyerah.
Kembali pada masa awal saya memutuskan menekuni bidang ini, saya pernah berucap "Saya adalah seorang beruntung yang bisa berada disini". Merasa ditampar oleh ucapan sendiri, saya menyadari bahwa saya tidak bisa seperti ini.
Berusaha dahulu sebelum menyerah.
Bukan akhir dari sesuatu yang disebut akhir. Jalan saya, bahkan belum menjadi setengah jalan. Menyerah belum pernah menjadi kata-kata yang sering diucap.
Mimpi saya, untuk bisa berada nun jauh di Italia, harus di realisasikan.
Namun sebelumnya, ada 2 tahun (dan 1 tahun untuk meraih sarjana seni) yang harus dilewati untuk sampai kesana.
Bukan banyak jalan menuju Roma, tetapi selalu ada jalan menuju Roma.
Bogor, siang ini.
zombiegail
Showing posts with label storries. Show all posts
Showing posts with label storries. Show all posts
Saturday, April 5, 2014
Tuesday, July 9, 2013
Sakit.
Saya masih banyak memendam kegelisahan dalam hati. Terlalu banyak hal yang tidak bisa saya ungkapkan, baik dengan sekedar menulis atau berbicara lantang, apalagi berteriak. Rasanya saya tak mempunyai sedikitpun energi untuk melakukan salah satu hal diatas.
Kekecewaan ini terus ada, menorehkan bekas luka yang tak kunjung sembuh. Mengapa saya ditelantarkan begitu saja. Mengapa saya dibuat mengemis untuk sesuatu yang seharusnya menjadi hak saya. Mengapa kau gantungkan hidupku. Mengapa lantas kau buatku kecewa, padahal aku ini darah dagingmu?
Kalau kau kesal dengan induk betinaku, tak seharusnya kau juga membenciku.
Aku rasa kamu benci aku.
Karena kamu tega.
Sunday, October 7, 2012
Tarian bulan sabit
Apa yang sedang terjadi dalam tempurung kita, tidak lebih karena keserakahan. Soddom dan Gomora, bukan hanya cerita dalam kitab suci alkitab, namun selangkah lagi menjadi kenyataan.
Bagaimana bisa, tempurung ini dipenuhi oleh orang-orang pengecut? Bagaimana bisa tempurung ini terisi para pencuri, ketika dasar hidup yang dipakai, mengumandangkan Ke-Tuhanan yang Maha Esa?
Bukan salah ibu mengandung, sayang
Bukan salah bapak berharap, cinta
Kami semua dilahirkan degan harapan yang baik.
Jadi anak teladan, jadi anak yang baik. Klise. Tapi siapa yang tidak mau?
Apakah ada orang tua yang berharap, nanti anak saya akan menjadi serakah?
anak saya akan mengambil uang rakyat?
anak saya akan menghujat manusia lain karena dia minoritas
Saya rasa hanya orang tua gila yang berharap anaknya menjadi gila sepert itu.
Orang gedongan merajalela, rakyat kecil semakin terbengkalai. Gedung tinggi dibangun, orang kecil yang jd tumbal. Orang besar makan duit orang kecil. Baru jadi penggeda beberapa bulan, mobil sudah kualitas tingkat tinggi dari negeri italia. Siapa yang salah disini? semuanya? mungkin.
Ketika semua orang bergidik membaca tulisan ini, yang akan saya lakukan hanya menari dibawah cahaya bulan sabit malam nanti.
Bagaimana bisa, tempurung ini dipenuhi oleh orang-orang pengecut? Bagaimana bisa tempurung ini terisi para pencuri, ketika dasar hidup yang dipakai, mengumandangkan Ke-Tuhanan yang Maha Esa?
Bukan salah ibu mengandung, sayang
Bukan salah bapak berharap, cinta
Kami semua dilahirkan degan harapan yang baik.
Jadi anak teladan, jadi anak yang baik. Klise. Tapi siapa yang tidak mau?
Apakah ada orang tua yang berharap, nanti anak saya akan menjadi serakah?
anak saya akan mengambil uang rakyat?
anak saya akan menghujat manusia lain karena dia minoritas
Saya rasa hanya orang tua gila yang berharap anaknya menjadi gila sepert itu.
Orang gedongan merajalela, rakyat kecil semakin terbengkalai. Gedung tinggi dibangun, orang kecil yang jd tumbal. Orang besar makan duit orang kecil. Baru jadi penggeda beberapa bulan, mobil sudah kualitas tingkat tinggi dari negeri italia. Siapa yang salah disini? semuanya? mungkin.
Ketika semua orang bergidik membaca tulisan ini, yang akan saya lakukan hanya menari dibawah cahaya bulan sabit malam nanti.
Monday, April 4, 2011
lagi dan lagi
Kadang ketika cinta bukan menjadi hal yang menyenangkan.
Adalah seorang perempuan bernama Aura, seorang anak yang sungguh biasa saja, namun saya tau, ada suatu hal yang membuatnya menjadi tak biasa
Tersebut seorang pejantan bernama Yusuf, yang katanya pejantan kaya raya dari negeri seberang
Mereka bertemu di suatu dermaga, sama-sama menunggu kapal impian yang akan berlabuh. Suasananya dingin, menusuk jiwa.
Dipertemukan oleh angin, menjadi suatu keunikan tersendiri. Mereka pun menjalin komunikasi. Komunikasi cinta? belum tentu.
Dua insan berbeda kepribadian, adalah dua hal yang sulit disatukkan. Itulah mereka. Tak mengerti apa yang dirasakkan sang pria, begitupun yang wanita. Pusing? apalagi saya.
Sang pria keras kepala, yang wanita juga. Sifat yang betul-betul menjadi penghalang. Tak seperti ombak yang dapat mengikis batu karang, sifat ini sulit sekali dikikis. Maka mereka melilih untuk tetap begini, berdiri dalam ketidak pastian sampai suatu saat sang lelaki berkata bahwa dia sudah berpaling. Miris, ahmasa?
Ada lagi betina bernama Gasha, seorang pemimpi kelas kakap
Lagi-lagi, ada seorang perjaka bernama Ara, seorang penjual jam. Pasti dia tipe orang tepat waktu! Ah tidak juga...
Mereka menjalin suatu komunikasi, bukan juga cinta. Dulu si betina yang memulai, sekarang si pejantan. Tapi tak selamanya si pejantan itu ada. Kenapa? kurang tau juga
Loh mengapa ceritanya selesai??
Saya hanya tak kuat lagi menulis kisah saya sendiri
Adalah seorang perempuan bernama Aura, seorang anak yang sungguh biasa saja, namun saya tau, ada suatu hal yang membuatnya menjadi tak biasa
Tersebut seorang pejantan bernama Yusuf, yang katanya pejantan kaya raya dari negeri seberang
Mereka bertemu di suatu dermaga, sama-sama menunggu kapal impian yang akan berlabuh. Suasananya dingin, menusuk jiwa.
Dipertemukan oleh angin, menjadi suatu keunikan tersendiri. Mereka pun menjalin komunikasi. Komunikasi cinta? belum tentu.
Dua insan berbeda kepribadian, adalah dua hal yang sulit disatukkan. Itulah mereka. Tak mengerti apa yang dirasakkan sang pria, begitupun yang wanita. Pusing? apalagi saya.
Sang pria keras kepala, yang wanita juga. Sifat yang betul-betul menjadi penghalang. Tak seperti ombak yang dapat mengikis batu karang, sifat ini sulit sekali dikikis. Maka mereka melilih untuk tetap begini, berdiri dalam ketidak pastian sampai suatu saat sang lelaki berkata bahwa dia sudah berpaling. Miris, ahmasa?
Ada lagi betina bernama Gasha, seorang pemimpi kelas kakap
Lagi-lagi, ada seorang perjaka bernama Ara, seorang penjual jam. Pasti dia tipe orang tepat waktu! Ah tidak juga...
Mereka menjalin suatu komunikasi, bukan juga cinta. Dulu si betina yang memulai, sekarang si pejantan. Tapi tak selamanya si pejantan itu ada. Kenapa? kurang tau juga
Loh mengapa ceritanya selesai??
Saya hanya tak kuat lagi menulis kisah saya sendiri
Saturday, February 19, 2011
Karena saya adalah dagingmu, air mata tak hentinya mengalir
Cry me a river?
Saya tertegun membaca spanduk dijalan. Penolakkan pembangunan rumah ibdaha. Sudah setahun lebih saya tertegun didepan spanduk tersebut.
Hati saya teriris
Pilu
Lain lagi ketika saya menyalakkan televisi. Penyerangan kelompok agama yang katanya kafir. Lagi-lago, sudah lebih dari seminggu berita ini ditayangkan di telivisi, sampai bosan, sampai kesal. Ada apa ini?
Saya mungkin bukanlah orang yang bijaksana dan perdulian. Hari-hari saya pun begitu saja saya lalui dengan aktivitas segudang. Saya tak pernah perduli kegiatan sekitar, yang penting kegiatan saya saja. Kegiatan orang lain? itu urusan belakangan. Egois? mungkin saja. Terserahlah.
Saya tinggal di ibukota yang sama egoisnya dengan saya. Seakan-akan, kami mempunyai dunia masing-masing yang tak mungkin diganggu orang lain. Ibukota yang kekejamannya melenihi novel R.L Stein yang bercerita tentang hantu-hantu jahat pemakan manusia, monster-monster menakutkan yang bermuka dua. Di Jakarta semuanya itu real, terlihat nyata. Tak cuma kota yang egois, kota Jakarta adalah kota yang "memungkinkan" semuanya menjadi kenyataan. Like a dream comes true? mungkin saja. Namun dalam konteks yang berbeda. Konteks yang mengarah kepada kebencian, kepalsuan, kelihaian hantu-hantu merayu.
Tak perlu malam untuk melihat mereka. Bahkan seseorang memakai setelan jas rapih pun bisa menjadi salah satunya. Mereka itu monster, semuanya ingin diraih. Mukanya bermuka dua, cocok menjadi tokoh monster di kartun D.C. Cocok sekali. Senyum mereka yang mnyeringai, tampaknya sama seperti manusia serigala yang ada di werewolf. Tampak sangat nyata. Memang nyata, atau saya adalah bagian cerita mereka?
Sebuah kitab ditangan, setelan suci itu dipakainya, gagah sekali. Masuk rumah agama masing-masing. Namun hasilnya? katanya demi agama, namun saling mencemooh. Memakai kompor untuk saling menaikkan emosi. Yang satu bilang anjing, yang sana bilang tai. Tadinya, dijanjikan kerukunan agama. Tapi mana? sekarang sepertinya lebih baik menjadi seorang yang atheis, seorang yang tidak punya agama, karena mereka yang tidak punya agama adalah seseorang yang tidak pernah berantem soal agama. Tak ada gunanya. Memang, fanatisme mengalahkan semuanya.
Saya memang tak perduli, namun sampai kapan kita teridam termangu meratapi nasib ibukota ini?. Katanya saya dagingmu kawan, kalau saudara, mengapa kalian membut satu sama lain menagis tak henti?. A-N-E-H
Terlalu frontal? kadang kita sudah terlalu munafik karena tetap tersenyum ditengah kenajisan ini,
Saya tertegun membaca spanduk dijalan. Penolakkan pembangunan rumah ibdaha. Sudah setahun lebih saya tertegun didepan spanduk tersebut.
Hati saya teriris
Pilu
Lain lagi ketika saya menyalakkan televisi. Penyerangan kelompok agama yang katanya kafir. Lagi-lago, sudah lebih dari seminggu berita ini ditayangkan di telivisi, sampai bosan, sampai kesal. Ada apa ini?
Saya mungkin bukanlah orang yang bijaksana dan perdulian. Hari-hari saya pun begitu saja saya lalui dengan aktivitas segudang. Saya tak pernah perduli kegiatan sekitar, yang penting kegiatan saya saja. Kegiatan orang lain? itu urusan belakangan. Egois? mungkin saja. Terserahlah.
Saya tinggal di ibukota yang sama egoisnya dengan saya. Seakan-akan, kami mempunyai dunia masing-masing yang tak mungkin diganggu orang lain. Ibukota yang kekejamannya melenihi novel R.L Stein yang bercerita tentang hantu-hantu jahat pemakan manusia, monster-monster menakutkan yang bermuka dua. Di Jakarta semuanya itu real, terlihat nyata. Tak cuma kota yang egois, kota Jakarta adalah kota yang "memungkinkan" semuanya menjadi kenyataan. Like a dream comes true? mungkin saja. Namun dalam konteks yang berbeda. Konteks yang mengarah kepada kebencian, kepalsuan, kelihaian hantu-hantu merayu.
Tak perlu malam untuk melihat mereka. Bahkan seseorang memakai setelan jas rapih pun bisa menjadi salah satunya. Mereka itu monster, semuanya ingin diraih. Mukanya bermuka dua, cocok menjadi tokoh monster di kartun D.C. Cocok sekali. Senyum mereka yang mnyeringai, tampaknya sama seperti manusia serigala yang ada di werewolf. Tampak sangat nyata. Memang nyata, atau saya adalah bagian cerita mereka?
Sebuah kitab ditangan, setelan suci itu dipakainya, gagah sekali. Masuk rumah agama masing-masing. Namun hasilnya? katanya demi agama, namun saling mencemooh. Memakai kompor untuk saling menaikkan emosi. Yang satu bilang anjing, yang sana bilang tai. Tadinya, dijanjikan kerukunan agama. Tapi mana? sekarang sepertinya lebih baik menjadi seorang yang atheis, seorang yang tidak punya agama, karena mereka yang tidak punya agama adalah seseorang yang tidak pernah berantem soal agama. Tak ada gunanya. Memang, fanatisme mengalahkan semuanya.
Saya memang tak perduli, namun sampai kapan kita teridam termangu meratapi nasib ibukota ini?. Katanya saya dagingmu kawan, kalau saudara, mengapa kalian membut satu sama lain menagis tak henti?. A-N-E-H
Terlalu frontal? kadang kita sudah terlalu munafik karena tetap tersenyum ditengah kenajisan ini,
Saturday, December 18, 2010
C untuk.... apa?
Cinta adalah hal luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia
manusia kepada Tuhan
Pejantan kepada betinanya
Lelaki kepada perempuan
bla.. bla.. bla...
hahaha
BULLSHIT
TAI BANTENG
Cinta adalah omong kosong belaka didalam hidup ini, kalau kau tau, dan kalau kau mau berkata demikian.
Ketika kau sakit hati, kau akan berkata demikian.
Intinya: cinta itu tak permanen( ah masa???)
Saya bukanlah seorang doketer cinta, nahkan pujangga cinta pun bukan. Namun saya mengerti apa itu cinta
dari realita kehidupan.
dari kehidupan yang sebenarnya....
Panggil saja saya A. Bisa anjing, bisa alay, bisa apapun itu. Terserah kalian.
Saya sudah terbiasa menjadi "penghibur". Ya, dalam arti kata lain. Saya ini, wanita tanpa cinta. Tak pernah ada cinta dalam hati ini. Selalu kosong, seperti laut tak beriak.
Kalau orang berkata, bahwa hubungan intim adalah precious, bagi saya tidak. Setiap malam, dengan gampangnya para pria hidung belang mengeluarkan uang yang banyak untuk bertemu saya dan....(bisa anda teruskan sendiri)
Sudah biasa saya merasakkan berhubungan tanpa cinta. Kalau kata penyanyi, cinta satu malam, namun tak akan pernah saya kenang.
Cinta itu berahi, cinta itu eros!
Salah kalian bilang kepada pacar kalian" Cintaku tulus sayang kepadamu...."
Those words are totally bullshits!
Bodoh kalian! apalagi yang percaya.
Saya berani bertaruh, bahwa pada akhirnya, itu semua akan menjadi bubur, yang nantinya tertelan begitu saja, lalu dibuang dari lubang belakang. Dan yang pasti, sudah menjadi nista.
Sakit hati akhir-akhirnya. Nantinya jadi benci satu sama lain. Lalu menjadi perang. Lalu habis.
Bukannya saya tak percaya cinta, namun ... ya pengalaman mengajari kita semuakan?
Cinta itu tak pernah ada yang manis
Cinta itu selalu bohong
Cinta itu selalu menyakiti
wait a minute..... selalu menyakiti?
Cinta itu HARUS SIAP DISAKITI
Tapi, apakah akan ada yang percaya, kepada kata-kata saya?
SAya hanya seorang lonte'
yang berusaha bijak
manusia kepada Tuhan
Pejantan kepada betinanya
Lelaki kepada perempuan
bla.. bla.. bla...
hahaha
BULLSHIT
TAI BANTENG
Cinta adalah omong kosong belaka didalam hidup ini, kalau kau tau, dan kalau kau mau berkata demikian.
Ketika kau sakit hati, kau akan berkata demikian.
Intinya: cinta itu tak permanen( ah masa???)
Saya bukanlah seorang doketer cinta, nahkan pujangga cinta pun bukan. Namun saya mengerti apa itu cinta
dari realita kehidupan.
dari kehidupan yang sebenarnya....
Panggil saja saya A. Bisa anjing, bisa alay, bisa apapun itu. Terserah kalian.
Saya sudah terbiasa menjadi "penghibur". Ya, dalam arti kata lain. Saya ini, wanita tanpa cinta. Tak pernah ada cinta dalam hati ini. Selalu kosong, seperti laut tak beriak.
Kalau orang berkata, bahwa hubungan intim adalah precious, bagi saya tidak. Setiap malam, dengan gampangnya para pria hidung belang mengeluarkan uang yang banyak untuk bertemu saya dan....(bisa anda teruskan sendiri)
Sudah biasa saya merasakkan berhubungan tanpa cinta. Kalau kata penyanyi, cinta satu malam, namun tak akan pernah saya kenang.
Cinta itu berahi, cinta itu eros!
Salah kalian bilang kepada pacar kalian" Cintaku tulus sayang kepadamu...."
Those words are totally bullshits!
Bodoh kalian! apalagi yang percaya.
Saya berani bertaruh, bahwa pada akhirnya, itu semua akan menjadi bubur, yang nantinya tertelan begitu saja, lalu dibuang dari lubang belakang. Dan yang pasti, sudah menjadi nista.
Sakit hati akhir-akhirnya. Nantinya jadi benci satu sama lain. Lalu menjadi perang. Lalu habis.
Bukannya saya tak percaya cinta, namun ... ya pengalaman mengajari kita semuakan?
Cinta itu tak pernah ada yang manis
Cinta itu selalu bohong
Cinta itu selalu menyakiti
wait a minute..... selalu menyakiti?
Cinta itu HARUS SIAP DISAKITI
Tapi, apakah akan ada yang percaya, kepada kata-kata saya?
SAya hanya seorang lonte'
yang berusaha bijak
Friday, October 22, 2010
Kami dan lautan
Saya bergidik tajam ke arah dia, seorang anak muda yang kurang lebih seumur denganku. Dia acuh, tak membalas pandanganku. Jadi, saya biasa saja. Menangkap ikan hari ini menjadi sangat membosankan, apalagi, ikan tak kunjung mendekati jaring.
Laut diseberang saya tak pernah jadi biru. Hitam.
Saya menunggu, kapan laut mati akan berhenti membuat semua benda mengambang. Saya menunggu itu.
Hari itu tidak gelap, namun tak juga terang. Saya menyanyikan kidung-kidung dari kitab Mazmur. Namun tak menggunakan kecapi, seperti Daud.
Anak muda itu menatapku tajam, saya berusaha mengacuhkannya. Sampai Ia datang dan tiba-tiba berkata " Hay, boleh saya bergabung". Saya mengangguk, sambil terus bermazmur.
Tiba- tiba, satu lelaki datang, kali ini, Ia sudah lumayan tua. Mungkin belum tua, namun terlihat tua. Janggutnya panjang, rambutnya gondrong. Dia datang tiba-tiba. Saya dan anak itu diam.
"Apa yang kau tunggu, anak-anakku?", tanya bapak itu. "Kami menunggu ikan pak. Sudah satu hari kami mengarungi laut, tak pernah kami dapat ikan-ikan itu". Lelaki itu terdiam, tiba-tiba berkata" Tebarkan jala itu ke samping kiri, maka kau akan mendapat ikan banyak. Jangan lupa, nanti kau harus mengucap syukur kepada Tuhan atas semua berkat ini".
Saya menuruti apa yang dikata dan ya benar. Jala itu sekarang banyak ikan.
Namun, lelaki itu menghilang. Tetapi meninggalkan sepucuk surat
"Janganlah kau lupa akan kasih-Nya. Bersyukurlah setiap hari, jangan pernah menggerutu. Sebab Tuhan selalu bersertamu, di saat paling susah sekalipun"
Saya dan dia, meyadari kalau lelaki itu bukan lelaki biasa.
Bisa jadi, Dia Tuhan
Laut diseberang saya tak pernah jadi biru. Hitam.
Saya menunggu, kapan laut mati akan berhenti membuat semua benda mengambang. Saya menunggu itu.
Hari itu tidak gelap, namun tak juga terang. Saya menyanyikan kidung-kidung dari kitab Mazmur. Namun tak menggunakan kecapi, seperti Daud.
Anak muda itu menatapku tajam, saya berusaha mengacuhkannya. Sampai Ia datang dan tiba-tiba berkata " Hay, boleh saya bergabung". Saya mengangguk, sambil terus bermazmur.
Tiba- tiba, satu lelaki datang, kali ini, Ia sudah lumayan tua. Mungkin belum tua, namun terlihat tua. Janggutnya panjang, rambutnya gondrong. Dia datang tiba-tiba. Saya dan anak itu diam.
"Apa yang kau tunggu, anak-anakku?", tanya bapak itu. "Kami menunggu ikan pak. Sudah satu hari kami mengarungi laut, tak pernah kami dapat ikan-ikan itu". Lelaki itu terdiam, tiba-tiba berkata" Tebarkan jala itu ke samping kiri, maka kau akan mendapat ikan banyak. Jangan lupa, nanti kau harus mengucap syukur kepada Tuhan atas semua berkat ini".
Saya menuruti apa yang dikata dan ya benar. Jala itu sekarang banyak ikan.
Namun, lelaki itu menghilang. Tetapi meninggalkan sepucuk surat
"Janganlah kau lupa akan kasih-Nya. Bersyukurlah setiap hari, jangan pernah menggerutu. Sebab Tuhan selalu bersertamu, di saat paling susah sekalipun"
Saya dan dia, meyadari kalau lelaki itu bukan lelaki biasa.
Bisa jadi, Dia Tuhan
skenario 2: Anjing menggonggong. Namun apalah arti sebuah kafilah?
skenario 2 kehidupan Nirmala
Malam tak kunjung usai. Bahkan matahari sudah siap di tempatnya, namun, malam tak kunjung usai.
Langit tetap kelabu, tak kunjung menunjukkan tanda-tanda adanya terang.
Begitu juga dengan diri Nirmala, yang tetap kelabu. Memandang mata air.
Haryono sudah beberapa hari pergi. Namun itu rasanya seperti setahun. Rasa kangen yang luar biasa menyelimuti hati Nirmala. Ia sedih, namun tak menangis. Ia marah, namun tak berani mengeluarkan teriakkan.
Ayahnya kembali pulang, membawa seekor anjing busuk. Bentuknya tak jelas. Katanya, anjing ini didapatnya di dermaga. Tapi siapa perduli?
Anjing itu dibawa pulang karena ayah Nirmala merasa sedih melihat anaknya tak kunjung tersenyum. "Hanya gara-gara lelaki buta kau seperti ini?" tanya ayah Nirmala. Selalu, setiap saat. Nirmala tak mau marah, walau tersinggung. Dia hanya memendam kekecewaan itu dalam hati. Nirmala tau, apalah guna marah?
Anjing itu terus menggonggong. Mungkin sedang menunggu sesuatu. Sesuatu? sesuatu itu apa? mungkinkah cinta? atau.. ah sudahlah.
Kali ini, sang anjing menggonggong ke depan, arah langit. Kata orang, itu adalah tanda kafilah- kafilah cinta akan datang kepada orang yang kesepian. Kafilah? seperti apa kata pepatah. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Namun kafilah itu tak kunjung datang juga, dan tak juga berlalu. Tetap saja sendiri.
Nirmala belajar, bahwa kadang, kita harus berjalan sendiri, tak usah menunggu kafilah-kafilah yang akan datang.
Sampai detik ini pun, kafilah-kafilah itu tak kunjung datang. Walau anjing itu tak berhenti menggonggong
Tuesday, September 14, 2010
Skenario 1:ketika air sungai mulai bergejolak, dan mata air tak menunjukkan sebuah jawaban
Skenario1 Dunia Nirmala
Air itu berhenti. Nirmala tak habis fikir.
Bagaimana bisa, sebuah sungai berhenti mengalir?
Kini, hampa sudah hatinya. Tak ada lagi penglipur lara hatinya.
Adalah (Har)yono. Seorang pemuda idaman satu kampung, tempat Nirmala tinggal. Jangan berharap, bahwa Haryono adalah seorang pemuda tampan gagah perkasa, layaknya Bandung Bondowoso. Perwakannya kecil, kurus. Entah mengapa, padahal ayahnya adalah seorang guru-pencak-silat yang berbadan lumayan kekar. Kesehariannya hanya duduk didekat jendela, memandangi langit. Wajahnya? tak tampan. Namun senyumnya mampu membunuh senja yang sepi.
Nirmala, awalnya tak begitu mengenal Haryono. Mereka hanya sering bertatapan. Menurutnya, Haryono adalah orang yang sombong. Tak pernah sedikit pun melihat ke arah orang yang datang atau kadang malah iya memilih sibuk membaca buku, yang entah apa isisnya.
Dari kecil pun, Haryono tak pernah ikut bermain. Ia selalu memandangi langit dan acuh
Namun entah mengapa, Haryono yang mungkin saja menggunakan ilmu pelet, dapat menarik mata Nirmala. Tiba-tiba saja, ketika Nirmala bangun dipagi hari, Ia sadar, bahwa Ia mencintai Haryono. Entah mengapa. Sungguh sebuah keanehan.
Kali ini, Ia menemukan Haryono sedang merenung sendiri, di tepi sungai. Aneh- aneh saja. Dan kali ini, Ia tak membawa buku, hanya sebuah tongkat, yang sesekali digunakan untuk bermain air. Aneh.
Haryono: sepertinya ada yang datang
Nirmala: ya aku, Nirmala
Haryono: hay, apakah kau sering bermain disini? airnya sungguh indah. sangat begrgejolak. Sepertinya hatiku, yang sering bergejolak. Entah mengapa, mungkin karena ada dirimu
Nirmala: *tersenyum malu* apakah yang kau katakan tadi, adalah selama ini yang kau pelajari dari bukumu?
Haryono: ya benar
Nirmala: tentu buku itu mengajarkan padamu cara merayu wanita
Haryono: mm tidak juga. Hanya saja kata-kata itu pas untukmu
Nirmala: masa? kau pintar merayu perempuan. Lagi pula mana mungkin kau tau akan wajahku, kan tak ada yang kau kenali, sedari kau kecil disini.
Haryono:Ya. aku hanya menebak, sudah kucoba mencari tau, sampaiku bertanya pada mata air, dia tak kunjung memberikan jawabannya
Nirmala: kau sungguh-sungguh bertanya pada mata air?
Haryono: ya benar. Kau merasa itu aneh?
Nirmala: aneh. tak biasanya. Hey maaf! aku harus segera kembali kerumah, ayahku sudah menanti!
Haryono: baiklah. nanti kutunggu kau esok hari, didepan jendela kamarku.
Jalinan cerita mereka pun berlanjut terus. NIrmala selalu datang menemani Haryono setiap saat. Lambat laun, hubungan mereka menjadi sangat dekat, sperti sangat sulit dipisahkan. Walau masih ada yang membuat Nirmala penasaran. "Mengapa Haryono tak pernah mau memandangku?"
Sampai suatu senja, Nirmala menemukan sebuah surat berpita merah muda dan sebuah kembang mawar berwarna sama. Perlahan, Nirmala membuka surat tersebut....
Kepada Nirmala yang cantik jelita...
Aku tau memang tak masuk akal. Bagaimana bisa aku mengetahui wajahmu yang manis, sementara melihat langitpun aku belum pernah.
Mungkin kau bertanya:
- mengapa aku tak pernah mau memandangmu?
- mengapa aku sedari kecil tak pernah bermain bersama?
- mengapa aku selalu berada di kamar, mencoba memandang langit dan acuh kepada mereka semua yang lewat, wlaupun mereka mengaggumiku?"
SEdari kecil, aku ingin sekali merasakan berlari ditengah sepoi angin, menangkap belalang disiang yang terik, atau bahkan meliohat hujan. Namun, aku tak mungkin bisa dan tak akan pernah bisa.
Maka saat kau dengar suaramu saat disungai, aku merasakan air sungai ikut bergejolak, maka aku menoba bertanya pada mata air"apakah kau cantik".
Namun sepertinya tidak perlu aku memaksa ingin bertanya pada mata air, dari suaramu saja sudah nampak jelas bahwa kau adalah wanita yang kucari.
Aku senang sekali. Namun, ketika aku berada dipuncka kebahagiaan, sepucuk surat dari ibuku, bahwa aku diundang untuk ke kota, tinggal bersamanya.
Waktu aku membaca surat itu, aku merasa langit runtuh dengan sekjap saja, walau aku tak mengerti bagaimana rupa langit. Aku sedih, namun sekaligus senang. Karena, setelah bereblas tahun lamanya, akhirnya ibuku mau memanggilku, untuk tinggal dengannya.
Walau sekarang, aku harus pergi, aku tak sedih, karena akusudah menemukanmu. Jangan sedih, klau nanti ada waktunya, kita akan bertemu lagi.
salam hangat,
Haryono
surat ini didektekan kepada bapakku.
Dan hari itu, adalah hari yang gelap. Air sungai tak kunjung menunjukkan riaknya. Dan mata airpun tak berusuara.
"ketika air sungai mulai bergejolak, dan mata air tak menunjukkan sebuah jawaban" terngiang di kuping Nirmala, hingga saat ini
Thursday, September 9, 2010
Skenario Dunia Nirmala: Dunia penuh kekacauan
Nama: Nirmala
Umur: 16
Nirmala, dia berumur 16. Baru saja memasuki umur 16. Kata orang, 16 lambang dari kebebasan, awal dari sebuah kehidupan masa muda yang penuh dengan keindahan, atau bisa jadi, awal dari sebuah kehancuran(underline)
Dengan menjadi seorang gadis 16 tahun, Nirmala pasti mempunyai banyak sekali beban yang harus ditanggung, mau-tidak-mau. 100 kertas pasti tak mampu untuk menuliskan semua beban yang harus ditanggung, di masa remaja muda ini.
Bagi Nirmala, tak masuk akal bila ada yang berkata bahwa masa muda adalah masa yang bahagia. Masa muda lebih cocok di bilang masa "labil". Emosi anak remaja kan tak bisa dikontrol, dan itu sama sekali tidak membahagiakan.
Dunia malam ini penuh gejolak, membuat dia berfikir untuk mengarunginya, dengan ganas.Nirmala tak suka bersikap manis, manis hanya sebuah kata penuh kemunafikkan.
Menunggu kapal sebagai kendaraa di malam buta seperti ini, membuatnya merasa seperti lonte sawangan yang sedang menunggu pelanggan. Sendirian dan muda. Lainnya dia masih perawan. Kapal malam ini lama datangnya, membuat dirinya merasa bosan. Nirmala hanya menatap aspal, sampai ketika seorang bapak memanggil namanya. Ya, dia adalah bapak dari gadis jelita ini.
"Nirmala, sudahkah kau persiapkan untuk esok hari?".
Dia tak menjawab apapun. Buat apa dipersiapkan.
Ayahnya adalah seorang pekerja dari laut seberang, ketika Ia bertemu ibu, Ia adalah pria paling gagah dari kerajaan mimpi. Namun, ketika mereka mempunyai Nirmala, Ia berubah menjadi pria paling tak berdaya satu planet. Tepatnya saat ibu akhirnya memutuskan untuk pergi, memilih untuk berjalan ke negeri abadi, dan duduk disamping Dia yang maha kuasa.
Nirmala tak pernah suka esok hari. Esok hari pertama saya memasuki tahap baru. Memasuki sekolah anak-anak muda. Tahap baru bagi seorang remaja bila sudah lulus tes-ini-itu yang telah disediakan. Ah tak penting menurutku. Toh, tanpa sekolah masa muda bla bla bla tersebut, Ia tetap bisa hidup.
Apalagi, sekolah ini adalh sekolah asrama. Ingin rasanya saya berteriak, namun tak akan bisa. Ini adalah cita-cita ibuku, supaya saya masuk kedalam sekolah, yeah ato kata lainnya malapetaka.
Perenungan ku malam ini selesai begitu saja. Dan ketika itu juga, sang angin datang menyapa" Mengapa kau bersedih?". Diriku menjawab seadanya "Sekolah malapetaka itu. membuatku ingin mati. Bisakah kau tunjukkan jalan terbaikku?" sang angin diam, lalu menjawab" Ku tantang kau membuat skenario, skenario penyelamatan dunia penuh kekacauan, dunia masa mudamu". Saya terdiam, dia berlalu.
Umur: 16
Nirmala, dia berumur 16. Baru saja memasuki umur 16. Kata orang, 16 lambang dari kebebasan, awal dari sebuah kehidupan masa muda yang penuh dengan keindahan, atau bisa jadi, awal dari sebuah kehancuran(underline)
Dengan menjadi seorang gadis 16 tahun, Nirmala pasti mempunyai banyak sekali beban yang harus ditanggung, mau-tidak-mau. 100 kertas pasti tak mampu untuk menuliskan semua beban yang harus ditanggung, di masa remaja muda ini.
Bagi Nirmala, tak masuk akal bila ada yang berkata bahwa masa muda adalah masa yang bahagia. Masa muda lebih cocok di bilang masa "labil". Emosi anak remaja kan tak bisa dikontrol, dan itu sama sekali tidak membahagiakan.
Dunia malam ini penuh gejolak, membuat dia berfikir untuk mengarunginya, dengan ganas.Nirmala tak suka bersikap manis, manis hanya sebuah kata penuh kemunafikkan.
Menunggu kapal sebagai kendaraa di malam buta seperti ini, membuatnya merasa seperti lonte sawangan yang sedang menunggu pelanggan. Sendirian dan muda. Lainnya dia masih perawan. Kapal malam ini lama datangnya, membuat dirinya merasa bosan. Nirmala hanya menatap aspal, sampai ketika seorang bapak memanggil namanya. Ya, dia adalah bapak dari gadis jelita ini.
"Nirmala, sudahkah kau persiapkan untuk esok hari?".
Dia tak menjawab apapun. Buat apa dipersiapkan.
Ayahnya adalah seorang pekerja dari laut seberang, ketika Ia bertemu ibu, Ia adalah pria paling gagah dari kerajaan mimpi. Namun, ketika mereka mempunyai Nirmala, Ia berubah menjadi pria paling tak berdaya satu planet. Tepatnya saat ibu akhirnya memutuskan untuk pergi, memilih untuk berjalan ke negeri abadi, dan duduk disamping Dia yang maha kuasa.
Nirmala tak pernah suka esok hari. Esok hari pertama saya memasuki tahap baru. Memasuki sekolah anak-anak muda. Tahap baru bagi seorang remaja bila sudah lulus tes-ini-itu yang telah disediakan. Ah tak penting menurutku. Toh, tanpa sekolah masa muda bla bla bla tersebut, Ia tetap bisa hidup.
Apalagi, sekolah ini adalh sekolah asrama. Ingin rasanya saya berteriak, namun tak akan bisa. Ini adalah cita-cita ibuku, supaya saya masuk kedalam sekolah, yeah ato kata lainnya malapetaka.
Perenungan ku malam ini selesai begitu saja. Dan ketika itu juga, sang angin datang menyapa" Mengapa kau bersedih?". Diriku menjawab seadanya "Sekolah malapetaka itu. membuatku ingin mati. Bisakah kau tunjukkan jalan terbaikku?" sang angin diam, lalu menjawab" Ku tantang kau membuat skenario, skenario penyelamatan dunia penuh kekacauan, dunia masa mudamu". Saya terdiam, dia berlalu.
TO BE CONTINUE
Friday, July 2, 2010
anak anjing
Saya adalah anak anjing. Umur saya 15 jelang 16 tahun.
Saya adalah tipe orang yang senang-senang. Lagian, ngapain juga sedih-sedih. Hidup sudah susah coy, ngapain dibikin sedih.
Makanya, menangis adalah musuh saya. Mengeluarkan air mata, is the last thing on earth i'd do. Yeah, kata ibu saya, saya tidak mempunyai perasaan
Lagian, buat apa punya perasaan,Gak guna juga.
Sounds so arogant sih, memang. Cuma that's me! begitu adanya saya.
Maka itu, kata ayah saya "Kamu sakit jiwa". Dia bahkan membawa saya pada psikiater, dua tahun yang lalu. Di ruangan yang menurut saya aneh itu, saya ditanyai pertanyaan yang aneh juga
Psikiater: apa kabar?
Saya: kelihatannya?
Psikiater: kamu baik-baik saja
Saya: itu tau
Psikiater: pernah nonton one liter of tears?
Saya: pernah. yang diikutin indonesia kan?
Psikiater: iyaa! saya sampai menangis tersedu-sedu. Bagaimana rasanya waktu kamu menonton film itu?
Saya: biasa aja. Its just a fckn drama. I dont like it
Psikiater itu terdiam. Lalu dia menunjukan muka bingungnya.Saya dipersilahkan keluar
Saya? tersenyum puas.
Ayah saya? menunjukan muka penuh rasa ingin tau,
Tapi toh, tak akan saya beri tau. Lagian salah sendiri ingin mencari tau. Terimalah saya begini adanya
Tak ada gunanya bertanya!
Saya adalah tipe orang yang senang-senang. Lagian, ngapain juga sedih-sedih. Hidup sudah susah coy, ngapain dibikin sedih.
Makanya, menangis adalah musuh saya. Mengeluarkan air mata, is the last thing on earth i'd do. Yeah, kata ibu saya, saya tidak mempunyai perasaan
Lagian, buat apa punya perasaan,Gak guna juga.
Sounds so arogant sih, memang. Cuma that's me! begitu adanya saya.
Maka itu, kata ayah saya "Kamu sakit jiwa". Dia bahkan membawa saya pada psikiater, dua tahun yang lalu. Di ruangan yang menurut saya aneh itu, saya ditanyai pertanyaan yang aneh juga
Psikiater: apa kabar?
Saya: kelihatannya?
Psikiater: kamu baik-baik saja
Saya: itu tau
Psikiater: pernah nonton one liter of tears?
Saya: pernah. yang diikutin indonesia kan?
Psikiater: iyaa! saya sampai menangis tersedu-sedu. Bagaimana rasanya waktu kamu menonton film itu?
Saya: biasa aja. Its just a fckn drama. I dont like it
Psikiater itu terdiam. Lalu dia menunjukan muka bingungnya.Saya dipersilahkan keluar
Saya? tersenyum puas.
Ayah saya? menunjukan muka penuh rasa ingin tau,
Tapi toh, tak akan saya beri tau. Lagian salah sendiri ingin mencari tau. Terimalah saya begini adanya
Tak ada gunanya bertanya!
Thursday, June 17, 2010
Ini adalah awal dari sebuah akhir, sayang
Aku menatap langit malam ini. Suara adzan bergema begitu kencangnya. Tapi toh, aku tak begitu perduli.
Aku tetap memandang langit sore itu, yang mendung.
Esok, hari yang (sebenarnya) sudah ditunggu-tunggu. Esok, aku akan melepas predikat "anak SMP yang labil" menjadi "anak SMA yang dewasa". Banyak yang berharap, agar cepat-cepat masuk ke SMA untuk memulai hidup baru. Namun aku tidak. Kehidupan SMP ku jauh lebih baik daripada nanti, sepertinya.
Kata ibuku semalam " SMP pasti tidak seseru SMA reg! you should know about it, just enjoy the vibe". Nyatanya, kata-kata dia tidak ada efeknya. Aku tetap saja gundah. Aku sangat mencintai masa SMP, sehingga ingin rasanya tetap tinggal dan memohon pada Tuhan agar diberi 1000 hari lagi untuk tetap di SMP, namun apa daya, tak mungkin bisa terjadi kan?
Langit hari ini sepi, tak ada burung berkicau, atau bahkan kalong yang berterbangan. Mungkin sedikit mendung. Suasana ini sangat mendukungku untuk pergi jauh, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Aku tak mau ada akhir, walau aku tau, kalu ada awl pasti ada akhir.
Taktala aku sedang melamuni langit itu, muncul lah seekor tikus-yang-nista sedang berjaga-jaga. Mungkin(saja) awalnya dia tidak tau bahwa ada aku disitu, di tempat mangkalnya. "Hey manis, sedih ya? haduh manusia hidupnya sedih mulu", kata tikus-yang-nista berkata sambil membereskan tas nya yang isinya kurang(atau tidak sama sekali) penting. "kalo gue sedih, urusan lo ya?" aku menjawab, sedikit serius. "Hey tenang kawan, aku hanya bertanya. Eh, by the way, kenapa sedih sih?" ,tanyanya lagi.Mau tak mau aku harus menjawab pertanyaanya yg satu ini "Esok, ketika matahari hampir terbenam, gue akan berpisah dari teman-teman gue". Seekor tikus-yang-nista itu pun bergidik, lalu menatapku dengan tatapan yang tajam a la mata elang. Buat aku, perilaku nya yang satu ini begitu menjijikan. Maka aku tidak menatapnya balik, sampai dia berkata "Anggap saja ini adalah awal dari sebuah akhir, sayang.". Aku terkaget-kaget, sampai tidak bisa bergerak, speehless. Namun, sebelum berhasil membuat diri saya bisa bertanya apa arti perkataannya, dia sudah berbalik arah, mungkin pulang. Namun dia sempat berkata " Renungkanlah kata-kataku, maka kau akan mengerti". Nyatanya, sudah 1000kali dipikirkan, namun aku tak pernah mengerti.
Aku tetap memandang langit sore itu, yang mendung.
Esok, hari yang (sebenarnya) sudah ditunggu-tunggu. Esok, aku akan melepas predikat "anak SMP yang labil" menjadi "anak SMA yang dewasa". Banyak yang berharap, agar cepat-cepat masuk ke SMA untuk memulai hidup baru. Namun aku tidak. Kehidupan SMP ku jauh lebih baik daripada nanti, sepertinya.
Kata ibuku semalam " SMP pasti tidak seseru SMA reg! you should know about it, just enjoy the vibe". Nyatanya, kata-kata dia tidak ada efeknya. Aku tetap saja gundah. Aku sangat mencintai masa SMP, sehingga ingin rasanya tetap tinggal dan memohon pada Tuhan agar diberi 1000 hari lagi untuk tetap di SMP, namun apa daya, tak mungkin bisa terjadi kan?
Langit hari ini sepi, tak ada burung berkicau, atau bahkan kalong yang berterbangan. Mungkin sedikit mendung. Suasana ini sangat mendukungku untuk pergi jauh, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Aku tak mau ada akhir, walau aku tau, kalu ada awl pasti ada akhir.
Taktala aku sedang melamuni langit itu, muncul lah seekor tikus-yang-nista sedang berjaga-jaga. Mungkin(saja) awalnya dia tidak tau bahwa ada aku disitu, di tempat mangkalnya. "Hey manis, sedih ya? haduh manusia hidupnya sedih mulu", kata tikus-yang-nista berkata sambil membereskan tas nya yang isinya kurang(atau tidak sama sekali) penting. "kalo gue sedih, urusan lo ya?" aku menjawab, sedikit serius. "Hey tenang kawan, aku hanya bertanya. Eh, by the way, kenapa sedih sih?" ,tanyanya lagi.Mau tak mau aku harus menjawab pertanyaanya yg satu ini "Esok, ketika matahari hampir terbenam, gue akan berpisah dari teman-teman gue". Seekor tikus-yang-nista itu pun bergidik, lalu menatapku dengan tatapan yang tajam a la mata elang. Buat aku, perilaku nya yang satu ini begitu menjijikan. Maka aku tidak menatapnya balik, sampai dia berkata "Anggap saja ini adalah awal dari sebuah akhir, sayang.". Aku terkaget-kaget, sampai tidak bisa bergerak, speehless. Namun, sebelum berhasil membuat diri saya bisa bertanya apa arti perkataannya, dia sudah berbalik arah, mungkin pulang. Namun dia sempat berkata " Renungkanlah kata-kataku, maka kau akan mengerti". Nyatanya, sudah 1000kali dipikirkan, namun aku tak pernah mengerti.
Friday, April 30, 2010
Bad Romance
Bad Romace yang ini adalah bukan sebuah kisah cinta biasa
Ini adalah cerita antara saya dan Dia...
Saya bukan lah seseorang yang baik. Saya juga bukan seseorang yang cantik. Saya hanya seseorang yang biasa saja. Yang banyak meminta
Saya adalah orang yang lemah dan penuh kegundahan hidup
Saya ingat ketika saya kemarin menonton film Hachiko, saya menangis segila-gilanya.
Saya ingat ketika saya putus. Saya merasa dunia saya runtuh, dan saya tidak mempunyai semangat hidup seketika.
Saya ingat ketika saya ditolak dua sekolah.
Saya ingat ketika ayah dan ibu saya cerai.
Saya ingat ketika ayah saya melempar asbak rokok ketika saya ketahuan merokok.
Saya ingat ketika ibu saya menjitak saya tekan pensil ketika saya kencing sembarangan.
Saya ingat ketika saya dan teman saya bermusuhan.
Saya ingat ketika saya tidak mendapatkan leading role di suatu pementasan ballet karena jarang masuk.
Saya ingat ketika sepupu saya membenci saya karena sikap saya yang sok bos
Saya ingat ketika kakak saya melempar baju ke muka saya karena saya tidak mengembalikannya dengan benar.
Dan masih banyak ingatan-ingatan lain yang, ya, menyakitkan dan menyedihkan.
Didalam masa-masa seperti itu, saya pergi padaMu. Bercerita, menangis, berteriak minta tolong. Saya benar-benar berada di genggamanMu. Dan itu membuat hatiku nyaman
Tetapi, bila saya sedang melupakan itu semua, ketika saya sedang dilanda kegembiraan, rasa cinta, dan kesenangan duniawi, saya membuangMu ke tempat sampah. MembiarkanMu disitu.
Namun, biarpun begitu, Kau tetap disana. Menanti sampai membusuk. Sampai nanti, saya akan datang lagi, mencariMu. Inilah yang diberi nama kesetiaan.
Saya mengakui kesalahan saya kepadaMu. Saya memujaMu setiap hari minggu, bernyanyi, berdoa, sebenarnya belom ada apa-apanya dibanding kesetiaanmu. CintaMu kepada saya melebihi dari indahnya cinta manusia dan harta duniawi.
Ini adalah kesalahan terbesar saya dalam hidup. Saya berjanji, saya tidak akan meninggalkanMu lagi.
YaAllah
Saya sayang kepadamu
Thursday, April 22, 2010
Surat dari alam
Saya hanya termenung di depan pintu, meratapi apa yang sudah terjadi
Now, my self is officially single. And that"s bad
Saya sudah terjerumus akan manisnya cinta. Namun, disini bukan cinta yang salah
Yang salah adalah orangnya, dia dan saya.
Kegundahan hati ini membuat saya berteriak "TOLONG! SAYA SAKIT!"
Dan suara dari alam menjawab
"Jangan kau takut. Walaupun ternyata, dia bukan punyamu lagi.
Selama angin masih menyapa
Selama burung tetap berkicau
Selama matahari tetap tersenyum
Selama dunia ini tetap bersatu dengan alam
I think you'll be okay"
Dan seketika, saya bergantung pada alam
Thursday, March 18, 2010
Iler Rebus
Saya terdiam. Ketika seorang teman berkata "Dia sudah HTSan kali reg, gausah dipusingin". Ah bagaimana tidak dipusingin "WOOOY udah cukup cinta ya! sudahlah!". Lalu memilih untuk bahagia, meski tetap kepikiran.
Lalu saya pulang. langsung lari membuka komputer, dan lewat twitter, saya mengungumkan kepada teman2 kelas saya ( yang juga temannya) kalau saya perlu bicara. Satu teman saya berkata bahwa saya harus menirimkan dm(direct mssg) lewat twitter untuk menceritakannya. Kurang dari 140 karakter, dengan lugas, singkat dan padat, saya menceritakan hal tersebut. Namun, jawabannya adalah:
"Oh,sok tau itu si dia! orang gaakada yang htsan yaelah". Haduh semakin bingung
Iler keluar dari mulut saya yang ternganga. Dia menyapa saya" Hay cantik, sendirian saja". Aku hanya diam lalu melirik sbentar, dan mengelapnya supaya tidak mengotori baju saya. Namun, tak lama, si iler kemudian keluar lagi. Kali ini dia berteriak dengan suara (paling) lantangnya" Hey cantik, kau bersedih? cerita saja sama gue, pasti gue bisa bantu kok!". Seketika saya menoleh. Tak percaya. Yang bicara benar-benar si iler itu!. "Gue patah hati!", kata saya menjawab pertanyaanya. "Oooh patah hati itu biasa lagiii", kata si iler seraya turun dari arah mulut ke arah pundak. "Alah, sok tau lo! iler aja belagu, yaelah", saya menjawab dengan muka meremehkan. Si iler bergidik lalu berkata " Saya memang bukan human being cuman, saya kan sering tuh, mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulutmu buat ngobatin hati orang lain yang lagi patah hati! makanya, saya keluar dari mulutmu itu untuk bertanya. Karena saya heran, masa dokter cinta bisa sakit hati!".
Deg! kata-kata iler mebuatku sadar. Saya suka memberi semangat kepada orang-orang yang sedang patah hati. Kata-kata itu pun lebih dari kata "sabar" yang sudah standart diucapkan orang-orang yang menghibur teman-temannya yang sedang dilanda sakit hati. Bahkan, kata sepupu saya, saya adalah dokter cinta nomer satu yang selalu ampuh bikin orang sakit hati jadi sembuh. Saya jadi bingung akan diri saya sendiri.
"Hoy! diem saja!", si iler mengagetkan saya. "Kata lo kan, letting go is sooo much easier than moving on, kok kamu gak menerapkan sih ke diri lo aja?". Saya diam tidak menjawab. Saya masih sibuk dengan komputer dan menatapi twitter saya. Namun, si iler tetap berusaha "Wooy gue taudah lo gak bakal denger gue, tapi yaaa masa lo lupa sih sama omongan lo! semua omongan dan nasehat cinta lo, udah bikin orang sembuh dari patah hatinya, nah, lo malah gak bisa bikin diri lo sembuh sih?". Saya merenungi kata-kata si iler. ada benernya juga ya. "Hey iler, terima kasih ya telah mengingatkanku". Sekarang, gantian dia yang diam, malahan pergi jatuh ke lantai. "Apa kata lo aja deh cantik! aku harus melebur dengan lantai mu dan membuatnya kotor. Daaaaah!". Saya terdiam, kesal memandangi si iler, lalu berteriak:
Lalu saya pulang. langsung lari membuka komputer, dan lewat twitter, saya mengungumkan kepada teman2 kelas saya ( yang juga temannya) kalau saya perlu bicara. Satu teman saya berkata bahwa saya harus menirimkan dm(direct mssg) lewat twitter untuk menceritakannya. Kurang dari 140 karakter, dengan lugas, singkat dan padat, saya menceritakan hal tersebut. Namun, jawabannya adalah:
"Oh,sok tau itu si dia! orang gaakada yang htsan yaelah". Haduh semakin bingung
Iler keluar dari mulut saya yang ternganga. Dia menyapa saya" Hay cantik, sendirian saja". Aku hanya diam lalu melirik sbentar, dan mengelapnya supaya tidak mengotori baju saya. Namun, tak lama, si iler kemudian keluar lagi. Kali ini dia berteriak dengan suara (paling) lantangnya" Hey cantik, kau bersedih? cerita saja sama gue, pasti gue bisa bantu kok!". Seketika saya menoleh. Tak percaya. Yang bicara benar-benar si iler itu!. "Gue patah hati!", kata saya menjawab pertanyaanya. "Oooh patah hati itu biasa lagiii", kata si iler seraya turun dari arah mulut ke arah pundak. "Alah, sok tau lo! iler aja belagu, yaelah", saya menjawab dengan muka meremehkan. Si iler bergidik lalu berkata " Saya memang bukan human being cuman, saya kan sering tuh, mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulutmu buat ngobatin hati orang lain yang lagi patah hati! makanya, saya keluar dari mulutmu itu untuk bertanya. Karena saya heran, masa dokter cinta bisa sakit hati!".
Deg! kata-kata iler mebuatku sadar. Saya suka memberi semangat kepada orang-orang yang sedang patah hati. Kata-kata itu pun lebih dari kata "sabar" yang sudah standart diucapkan orang-orang yang menghibur teman-temannya yang sedang dilanda sakit hati. Bahkan, kata sepupu saya, saya adalah dokter cinta nomer satu yang selalu ampuh bikin orang sakit hati jadi sembuh. Saya jadi bingung akan diri saya sendiri.
"Hoy! diem saja!", si iler mengagetkan saya. "Kata lo kan, letting go is sooo much easier than moving on, kok kamu gak menerapkan sih ke diri lo aja?". Saya diam tidak menjawab. Saya masih sibuk dengan komputer dan menatapi twitter saya. Namun, si iler tetap berusaha "Wooy gue taudah lo gak bakal denger gue, tapi yaaa masa lo lupa sih sama omongan lo! semua omongan dan nasehat cinta lo, udah bikin orang sembuh dari patah hatinya, nah, lo malah gak bisa bikin diri lo sembuh sih?". Saya merenungi kata-kata si iler. ada benernya juga ya. "Hey iler, terima kasih ya telah mengingatkanku". Sekarang, gantian dia yang diam, malahan pergi jatuh ke lantai. "Apa kata lo aja deh cantik! aku harus melebur dengan lantai mu dan membuatnya kotor. Daaaaah!". Saya terdiam, kesal memandangi si iler, lalu berteriak:
Tuesday, March 16, 2010
Kacung dan haknya
Saya duduk dipinggir jendela, melihat si Kacung berdiri didepan rumah itu. Maminya, memanggil dengan lantang" Hay cepat sini! dasar monyet!". Si kacung cuma diam. Malahan lari entah tak jelas arah, ya pokoknya menjauhlah dari rumah itu.
Saya tertegun, menjadikan saya ikut menjauhi jendela, lalu keluar rumah, untuk mengikuti dia. memang agak gila sih, mengikuti orang, tanpa ada maksud dan tujuan. Hey, tunngu! saya ada tujuanya! saya ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Kesannya, saya adalah orang yang want-to-know aja urusan orang lain. Tapi, yasudahlah, tidak mengganggu kalian juga kan??
Si Kacung terhenti disebuah pilar. Biasanya, itu tempat nongkrong Bang Hanid, si ketua geng motor kelas bawah. Tapi, hari ini sepi sekali. Oh ya, kemarin kan ada razia geng motor. Jadi ya, mungkin saja dia sudah pergi kocar-kacir entah kemana. Ah sudahlah, lupakan si Hanid, kita kembali ke Kacung. Kacung berdiri, lalu berlutut, dan tiba-tiba saja menangis "Saya tau, Gin. Kamu mengikuti saya sejak tadi. Saya tau itu". Saya bingung, entah mengapa. "Kamu kenapa? ada masalah sama si mami?". Kacung berbalik arah dan berkata "Saya ini nista! saya seumur kamu, tapi saya sudah dijual!". Saya kembali membalas "Kamu???? pecun?". Kacung terdiam, dia malah mendendangkan lantunan lagu khas sinden jalanan. Suaranya lumayanlah, walau tak sebagus Anggun C Sasmi atau siapalah itu. Dia kemudian berkata "Engkau tau itu" lalu dia bercerita tentang dirinya melalui sebuah lagu;
Kacung(bukan judul sebenarnya)
nada:Do
Aku adalah seorang anak perempuan yang tidak pernah dihargai keluarga
Kakak2ku adalah semuanya laki-laki
Dan aku sendiri yang perempuan
Mami, begitu panggilan untuk ibuku dan Papi, panggilan untuk ayahku, tak menghargai adanya perempuan
Sebab Mami pun laki-laki. Transgender
Kata mereka, aku dititipi oleh seorang munafik, yaitu ibu kandungku. Yang tak lain adalah istri pertama Papiku. Ayah dari kakak2ku juga
Papiku sakit jiwa. Iya tidak ya?
Lalu si Kacung berhenti menyanyikan lagu, dan berteriak
Saya tertegun, menjadikan saya ikut menjauhi jendela, lalu keluar rumah, untuk mengikuti dia. memang agak gila sih, mengikuti orang, tanpa ada maksud dan tujuan. Hey, tunngu! saya ada tujuanya! saya ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Kesannya, saya adalah orang yang want-to-know aja urusan orang lain. Tapi, yasudahlah, tidak mengganggu kalian juga kan??
Si Kacung terhenti disebuah pilar. Biasanya, itu tempat nongkrong Bang Hanid, si ketua geng motor kelas bawah. Tapi, hari ini sepi sekali. Oh ya, kemarin kan ada razia geng motor. Jadi ya, mungkin saja dia sudah pergi kocar-kacir entah kemana. Ah sudahlah, lupakan si Hanid, kita kembali ke Kacung. Kacung berdiri, lalu berlutut, dan tiba-tiba saja menangis "Saya tau, Gin. Kamu mengikuti saya sejak tadi. Saya tau itu". Saya bingung, entah mengapa. "Kamu kenapa? ada masalah sama si mami?". Kacung berbalik arah dan berkata "Saya ini nista! saya seumur kamu, tapi saya sudah dijual!". Saya kembali membalas "Kamu???? pecun?". Kacung terdiam, dia malah mendendangkan lantunan lagu khas sinden jalanan. Suaranya lumayanlah, walau tak sebagus Anggun C Sasmi atau siapalah itu. Dia kemudian berkata "Engkau tau itu" lalu dia bercerita tentang dirinya melalui sebuah lagu;
Kacung(bukan judul sebenarnya)
nada:Do
Aku adalah seorang anak perempuan yang tidak pernah dihargai keluarga
Kakak2ku adalah semuanya laki-laki
Dan aku sendiri yang perempuan
Mami, begitu panggilan untuk ibuku dan Papi, panggilan untuk ayahku, tak menghargai adanya perempuan
Sebab Mami pun laki-laki. Transgender
Kata mereka, aku dititipi oleh seorang munafik, yaitu ibu kandungku. Yang tak lain adalah istri pertama Papiku. Ayah dari kakak2ku juga
Papiku sakit jiwa. Iya tidak ya?
Lalu si Kacung berhenti menyanyikan lagu, dan berteriak
Labels:
digital imaging,
naration,
storries
Subscribe to:
Posts (Atom)
Labels
- a hello (1)
- art (6)
- digital imaging (14)
- life (3)
- naration (14)
- ngelantur (7)
- photograph (10)
- poem (3)
- poetry (2)
- promotion (1)
- skenario dunia nirmala (7)
- sketch (1)
- storries (16)
- Story (4)
